Bayangkan kita mau membangun sebuah rumah Impian. Saking ingin mengusahakan yang terbaik, maka kita mencari ahli yang terbaik. Kita teringat sebuah hadis “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR Bukhari). “Barangsiapa yang memegang kuasa tentang sesuatu urusan kaum muslimin, lalu dia memberikan suatu tugas kepada seseorang, sedangkan dia mengetahui bahwa ada orang yang lebih baik daripada orang itu, dia telah mengkhianati Allah, RasulNya dan kaum muslimin.” (Hadis Riwayat Al-Hakim). Lalu kita mencari seorang arsitek dan desain interior paling mahsyur. Kita katakan padanya, “Aku percaya padamu. Buatkan lah rumah yang terbaik untukku. Aku tak mau pusing” Tapi kenyataannya, si para ahli terbaik ini, ujung ujungnya banyak nanya ke kita, mengenai apa harapan harapan kita, mencari tahu kepribadian kita. Ketika seorang ahli mau mewujudkan yang terbaik untuk kliennya, ujung ujungnya, klien nya juga yang harus dibikin pusing, untuk menggali dirinya, keinginannya, bahkan sampai jenis jenis material pun seorang ahli memberi pilihan pilihan yang harus kita pikirkan juga. Si arsitek bisa saja memenuhi harapan kliennya untuk tidak pusing. Tapi ketahuilah, ketika klien tidak bisa membuat keputusan untuk dirinya sendiri, maka pihak lain lah yang akan membuatkan keputusan yang terbaik, VERSI ORANG LAIN. Maka rumah itu akan terbangun, sesuai kepribadian si arsitek, atau mungkin hasil tebak tebakan si arsitek mengenai kepribadian klien-nya. -- Contoh lain nih. Se newbie-newbie nya seorang ibu, ketika dia membayar jasa ahli untuk mengurus bayinya, hingga menjadi babysitternya sehari hari, jika seorang ibu (dan ayah) memiliki visi misi dan keinginan anaknya akan tumbuh seperti apa, maka orang tua lah yang harus ‘pusing’ dan jadi mastermind nya, walaupun pada akhirnya anaknya akan seharian diasuh oleh babysitter. Apa jadinya kalau kita menyerahkan segala urusan pada babysitter, walaupun ini babysitter yang terkenal cekatan, sayang anak, pinter ngajarin anak, pinter masak MPASI, dll. Maka, ‘mempercayakan pada ahlinya’ selalu punya konteks dan batasan. Pada hadis hadis terkait ini (DISCLAIMER: mohon maaf yaa kalau ada yang lebih paham ilmunya plis CMIIW karena ini hasil belajar sendiri), situasi yang dimaksud adalah peringatan terhadap fenomena sosial politik yang melibatkan kepemimpinan terhadap orang banyak, bahwa memberi peran sosial harus berdasarkan kompetensi dan integritas. Seperti halnya Rasulullah yang tidak mengintervensi keputusan ketika Salman Al Farisi mengusulkan membuat parit sebagai strategi perang. Maka, bagiku, at certain level, untuk urusan pribadi, KITA lah yang paling expert. Maka muncul pula ungkapan, "dokter terbaik adalah diri sendiri". Ungkapan ini muncul karena kita secara individu lah yang paling paham apa yang terjadi pada diri kita hari ke hari, jam ke jam. Kita lah yang punya kendali untuk membuat perubahan sesuai goal kita masing masing. Ke dokter yang sudah professor pun, kita hanya menyetor sebagian kecil data mengenai diri kita, dan dokter menyimpulkan dari sedikit puzzle tentang diri kita. Lalu ingat juga, seorang expert juga manusia. Bisa salah. Bisa bias (karena ada sponsor, kepercayaan pribadi yang mempengaruhi, sistem yang memaksa untuk melakukan sesuatu), kurang update dengan ilmu, bisa juga tidak cocok dengankonteks dan realita hidup kita. Maka, dalam menggandeng seorang ahli, penting untuk Trust, but verify Ngapain juga kita membayar ahli yang dikit dikit kita ngga percaya dan terlalu skeptis. Yakini bahwa ilmu si ahli lebih banyak, tapi jangan lupa untuk memverifikasi dan ikut belajar dari segala konsultasi kita. Pilih ahli yang transparan dan terbuka berdiskusi Cari lah ahli, guru, konsultan, yang siap memaparkan segala hal apa adanya dan tidak tersinggung ketika banyak ditanya. Bandingkan pendapat beberapa ahli. Siapa yang disebut ‘ahli’ juga manusia. Dalam berbagai bidang keahlian, ada pula yang Namanya opini, dan pengalaman. Namun walaupun ahli punya pengalaman yang berbeda. konsensus lebih kuat dari pendapat Tunggal. Kalau dalam bidang syariat, ada yang disebut jumhur ulama. Kalau dalam bidang medis, ada yang disebut medical consensus. Tanya diri kita: apa penjelasannya logis, apa dia memaksa, apa dia menghormati harapan harapan, pilihan dan nilai nilai yang kita pegang? Kalau tidak, maka Anda bertemu dengan seorang ahli tapi red flag. Segera kabur cari yang lain! Intinya, kita tetap penanggungjawab utama. Menyerahkan urusan ke ahli bukan berarti menyerahkan kendali sepenuhnya. Kita harus menjadi mitra aktif, bukan pasif. Kita, manusia, Allah desain untuk menjadi pembelajar seumur hidup. Tapi kalau ternyata ahli yang kita rujuk orangnya ngga mau jadi mitra aktif, wah itu red flag. Jangan mau jadi ‘kerbau dicucuk hidungnya’. Dengarkan ahlinya, tapi tetaplah jaid pemimpin bagi dirimu sendiri.
0 Comments
Mungkin di sekitar 1 dekade lalu, dunia pendidikan mulai aware terhadap fenomena bullying, dan beberapa fenomena lain hasil perkembangan ilmu di dunia psikologi. Maka ketika mencari sekolah, orang tua menitikberatkan mencari sekolah yang ‘sayang anak’, yang memperhatikan kelebihan dan kekurangan masing masing anak, tidak ada sistem ranking karena ‘semua anak adalah juara’ di bidangnya masing masing, tidak ada drilling soal matematika yang dianggap draining, berkaca pada model Pendidikan Finlandia yang santai tapi hasilnya sukses. Kesehatan mental anak menjadi sangat diperhatikan. Student centered. Keterlibatan orang tua pun meningkat di lingkungan sekolah. Waktu berlalu. Apa yang aku amati adalah anak anak yang logika matematikanya tidak setajam di zaman kami pada umur yang sama. Anak murid bersahabat banget dengan gurunya di level yang aku lihat terlalu dekat sehingga sosok guru yang ditinggikan menjadi hilang. Di berita berita pun muncul kasus yang parah, di mana murid berani membully gurunya, mungkin salah satunya karena isu mental health yang disikapi berlebihan. Orang tua yang terlalu mengintervensi urusan sekolah karena mungkin menganggap banyak kekurangan yang bisa merugikan tumbuh kembang anaknya. Kurikulum nasional, setiap ganti pemimpin pun ganti kebijakan. Kebijakan baru, biasanya adalah respon dari kekurangan kebijakan lama. Begitu terus pola akan berubah tapi ujung ujungnya akan berpindah di situ situ saja. Aku menyebutnya sebagai pendidikan berbasis trauma. Karena trauma dengan sistem sebelumnya, maka apa apa yang ada di sistem sebelumnya dianggap sebagai hal yang salah jadi harus diubah. Titik. Di level individual/keluarga/kelompok ada fenomena seperti berikut contohnya: Jika ada temuan yang melarang tidak boleh mengatakan kata ‘JANGAN’ pada anak, maka orang tua dan pendidik ramai ramai mengadopsinya. Tidak mengatakan JANGAN, begitu saja. Lalu muncul kalangan yang menentang 100 persen anggapan tersebut, dengan alasan di Quran banyak kata JANGAN, maka kalangan ini sama sekali tidak peduli, dan santai saja obral kata JANGAN ketika mendidik anak. Jangan nakal. Jangan lari lari nanti jatuh. Jangan ribut. Dll. Kini, Ketika sistem student centered education ternyata menuai hasil yang tidak diharapkan, kaum milenial merasa pendekatan ini tidak ada bagus bagusnya, sehingga sama sekali abai bahwa real bullying (yang harus diintervensi) exists, gen x dan y menjadi makin skeptis terhadap isu mental health yang dianggap bullshit, sehingga aku duga beberapa waktu ke depan, sistem pendidikan akan balik lagi untuk mengembalikan hasil kejayaan di ‘zaman kita’, yang padahal tidak jaya jaya juga karena sama sama ada cacatnya. Akhirnya mentah lagi deh. Padahal isu mental health juga hal yang real dan butuh perhatian demi terciptanya generasi yang sehat (yang pasti bukan isu dibuat buat di mana dikit dikit merasa kena mental health dan perlu healing sebagaimana tren di sosmed ya) Yang aku amati, yang menjadi kesalahan paling mendasar dari memilih dan merumuskan kebijakan pendidikan, adalah level berpikir pendidik hingga pengambil kebijakan yang masih rendah (level berpikir yang masih rendah ini, ada hasil penelitiannya lho). Semua input dan ilmu direspon dengan hitam putih. Ketika kita menemukan kekurangan di sistem A, maka kita benar benar menganggap sistem A buruk, lalu menyeberang ke sisi lainnya. Bukannya mengevaluasi diri sebagai eksekutornya sudah benar belum. Level berpikir yang meningkat adalah ketika kita lebih mampu memahami konteks. Anggapan bahwa ‘tidak boleh berkata jangan’, punya konteks. Kata ‘jangan’ dalam Al Quran, juga punya pola, pada hal hal seperti apa disebutnya. Pendidikan yang student centered bagus tapi ada batasnya. Pendidikan yang terpusat pada guru juga bagus, tapi ada batasnya. Dan agar konteks ini dipahami dan dieksekusi dengan kebijaksanaan, maka personil personil yang terlibat dalam Pendidikan WAJIB BUTUH pemahaman ilmu yang mendalam, bukan pakai ego, feeling, dan pengalaman ‘pada zamanku’ semata. Cerita pengalaman.. Ketika awal homeschooling Rara, aku butuh panduan untuk membuat aktivitas sehari hari. Tentunya akan sangat gegabah kalau mengeluarkan anak dari sekolah lalu di rumah mendidiknya dengan “organik” atau mengalir. Mau mengalir pun tetap perlu desain. Maka aku mempelajari sebuah metoda pendidikan, yang ternyata engga bisa langsung lompat ke metoda, melainkan harus belajar filosofinya. Walaupun aku mempelajarinya dengan segala keterbatasan dan jujur aja masih jauh dari sempurna, tapi yang ideal dilakukan adalah membaca 6 volume buku tebal, yang saat itu sempat ada diskusinya. Untuk memahami konsep dan filosofi saja, orang tua harus belajar sejarah dulu, bagaimana sistem pendidikan berubah dari waktu ke waktu dan apa latar belakangnya, dan ada proses brainstorming juga sambil membaca buku itu. Dengan demikian jika filosofi dan konsep sudah bisa dipegang kuat, ketika masuk ke bab metoda, banyak hal bisa menjadi menjadi fleksibel, yang penting pendidik/fasilitator memahami pondasinya dan bisa menciptakan atau mewarnai atmosfer/ lingkungan dengan hal hal yang mendukung visi pendidikan. Harapannya juga, kita tidak menolak metoda metoda baru, tapi sekaligus tidak mudah silau dengan ‘jualan’nya yang seolah positif. “Kembalikan saja pada Quran dan Hadis” Aku sangattt setuju ini WAJIB jadi landasan. Tapi yang aku pahami, Quran dan Hadis adalah book of sign, bukan book of science. Quran memberikan tanda tanda pemantik bagi pencari ilmu, seperti misalnya ayat tentang galaksi, penciptaan manusia, dll. Tetep aja cara menghitung pergerakan alam semesta harus dipelajari sendiri bukan? Quran dan teladan rasul memberikan kita prinsip dasar, dan juga beberapa contoh kasus. Namun, dari prinsip dan contoh tersebut, hikmah yang dapat kita ambil sehingga bisa diterapkan pada kondisi kondisi berbeda, sehingga bisa dirumuskan menjadi poin poin standard operating procedure, PERLU KAJIAN lebih mendalam. Pendalaman ini, dibantu oleh science. - Akhirnya, kita perlu jujur bahwa membangun sistem pendidikan yang kokoh tak bisa hanya bermodal semangat atau nostalgia masa lalu. Ia butuh pondasi yang kuat—falsafah yang dipahami, ilmu yang digali dalam, dan kepekaan terhadap konteks zaman. Tidak semua hal lama buruk, dan tidak semua hal baru otomatis benar. Maka bijaklah menimbang, jangan buru-buru membuang atau mengadopsi, apalagi hanya karena tren. Kalau memang kita ingin kembali pada nilai-nilai Qurani dan sunnah, maka jangan berhenti di jargon. Kembalilah dengan kesungguhan, dengan keilmuan, dan dengan proses berpikir yang matang—karena memahami hikmah itu butuh kedalaman, bukan sekadar pengulangan. Semoga kita menjadi bagian dari mereka yang tidak hanya sibuk menyalahkan sistem, tapi turut membangun arah. Perlahan, tapi berpijak kuat. Tidak sempurna, tapi jujur dalam belajar. Dalam dunia tumbuh kembang bayi, banyak yang menekankan pentingnya merespons tangisan bayi untuk membangun rasa aman. Di sisi lain, dikenal juga metode cry it out (CIO) yang membiarkan bayi menangis agar belajar menenangkan diri. Keduanya punya tujuan dan konteks masing-masing. Bagiku, tidak ada metode tunggal yang cocok untuk semua situasi. CIO misalnya, bisa membantu bayi mengembangkan mekanisme pertahanan dan kemampuan self-soothing. Tapi kemampuan ini muncul bukan dari kenyamanan, melainkan dari adaptasi terhadap situasi yang dianggap “berbahaya”, karena merasa tak ada tempat bergantung. Seperti alam yang bisa memurnikan dirinya sendiri dari polutan, manusia pun bisa belajar bertahan. Tapi seperti Sungai yang punya batas agar bisa melakukan self purification, menurutku pikiran manusia pun ada batasnya. Aku pernah ke panti asuhan bayi, dan melihat banyak bayi tergeletak tenang di ranjangnya. Tidak menangis, tidak menuntut. Mereka terbiasa menenangkan diri karena terbatasnya kehadiran orang dewasa. Bahkan ada aturan: dilarang menggendong bayi. Karena ketika mereka merasakan pelukan hangat, mereka sadar: “Oh, ternyata hidup bisa senyamanSirah nabawiyah tidak menjabarkan sedetil ini, maka untuk hal hal yang tidak bertentangan, aku menggunakan kaidah ‘serahkan pada ahlinya’, sehingga rujukan rujukan ilmiah pantas untuk digunakan. ini.” Tapi ketika tamu pulang, mereka kembali sendiri—dan jadi lebih rewel dari biasanya. Jika anakku memiliki orang tua yang hadir dan mampu mendampingi secara fisik dan emosional, apakah bijak jika aku mengkondisikan seperti anak yatim piatu? Menurutku, itu bukan kebijaksanaan. Anak yang tumbuh di lingkungan (terlalu) keras bisa jadi tangguh, tapi mungkin ada harga yang dibayar: kesulitan terhubung secara emosional, atau sukses yang digerakkan oleh dendam, bukan kasih, apalagi semangat kebermanfaatan. CIO bisa bermanfaat, jika dilakukan sesuai usia dan kesiapan anak. Seperti pelajaran matematika, tentu ada tahapannya—tidak bisa dipaksakan terlalu cepat. Maka, penggunaan metode ini pun punya panduan ilmiah, durasi, dan evaluasi sesuai tumbuh kembang. Meski dunia akademik pun belum satu suara, di situlah aku gunakan intuisi dan tetap minta petunjuk Allah. Sirah sahabat mengajarkan bahwa usia 0–7 tahun adalah masa memperlakukan anak seperti raja—memenuhi kebutuhannya. Bahkan Rasulullah pun menunda bangun dari sujud demi cucunya yang ingin bermain. Itu bentuk kehadiran penuh dan pemahaman terhadap fitrah anak. Terakhir, bayi menangis bukan karena manja atau cari perhatian. Mereka menangis karena belum bisa bicara: lapar, tidak nyaman, atau butuh kehadiran. Maka dalam menyikapi metode apapun, kebijaksanaan, kasih, dan pertimbangan kondisi anak tetap jadi kunci. Bagiku, tak ada satu cara yang mutlak benar dalam mengasuh anak. Setiap metode—termasuk cry it out—perlu dipahami konteksnya, bukan diikuti mentah-mentah. Yang terpenting adalah kehadiran orang tua yang peka, hadir dengan penuh kasih, dan mampu membaca kebutuhan anak sesuai fitrahnya. Karena pada akhirnya, bukan soal metode apa yang kita pilih—tapi bagaimana kita hadir dalam tumbuh kembang anak, dengan penuh kesadaran, cinta, dan tanggung jawab. Kompetisi olahraga, biasanya di proposalnya mengusung terminologi 'kesehatan' atau 'kebugaran' menjadi latar belakangnya. Biasanya sih yang digadang gadang adalah mengkampanyekan hidup sehat. Nyatanya, pada titik tertentu, "mencapai kebugaran" dan "berprestasi dalam kompetisi" olahraga adalah 2 hal yang berbeda, dan bisa jadi arah perjalanannya juga berbeda. Coba kita tengok apa makna sehat dan bugar terlebih dahulu Sehat, adalah kondisi bebas dari sakit, baik sakit fisik ataupun mental Bugar, adalah kondisi sehat, ditambah memiliki energi yang cukup atau bahkan bersisa untuk melaksanakan aktivitas sehari hari. Maka olahraga, bisa menjadi jalan menuju sehat dan bugar. Tapi, olahraga juga, bisa menjadi jalan menuju tidak sehat dan tidak bugar. Mengikuti sebuah kompetisi atau event olahraga untuk mencapai kemenangan, tentu akan berhadapan dengan kompetitor kompetitor yang berlomba lomba juga dalam berlatih. Coba kita tanya seorang gold medalist dari olahraga tertentu, apa rahasianya. Niscaya kita akan mendengar bahwa dia latihan setiap hari atau hampir setiap hari. Bahkan dalam 1 hari bisa 4 jam atau lebih. Untuk mencapai puncak prestasi (atau sekedar meningkatkan prestasi), tidak jarang kita harus berkompromi dengan tujuan olahraga kita yang lain, yaitu mencapai kesehatan dan kebugaran yang bisa langgeng sampai usia senja. Ada olahraga olahraga tertentu yang hanya menggunakan 1 sisi badan, rawan skoliosis atau berbagai macam isu ketidakseimbangan otot Ada olahraga yang terpapar banyak benturan dan butuh ketangkasan tinggi, rawan ligamen putus Ada olahraga yang menuntut mengurangi asupan air sebelum kompetisi Ada yang sangat dituntut menang, sehingga ditekan untuk berlatih terus, rawan depresi. Ada yang sedang marathon mengalami cedera berat, tapi karena ‘menyelesaikan lomba’ adalah tujuannya (prioritas kesehatan otomatis turun), maka dia menyeret badannya demi bisa menyelesaikan misi yaitu mencapai garis finish. “Namanya juga olahraga, pasti ada risiko cedera. Kalo takut cedera melulu, jadi ngga olahraga!” Yes, betul. Jangan sampai kita jadi ngga olahraga karena takut cedera, karena tidak berolahraga sendiri kelak akan meningkatkan risiko cedera terutama ketika sudah usia lebih senior. Saya di sini sedang membicarakan kompetisi olahraga, di mana frekuensi dan lama latihannya jauh lebih intensif. JADI, IKUT KOMPETISI SALAHH? Tentu saja bukan itu maksud saya. Sampai sekarang anak saya juga sering ikut kompetisi. Bukan pula maksud saya untuk menciutkan semangat untuk berolahraga. Olahraga pasti punya risiko cedera, sebagaimana kita semua makan pun punya risiko tersedak. Hanya saja kita perlu mengunjungi kembali apa motivasi awal kita, agar kita tidak terseret secara tidak sadar kepada hal yang sebenarnya bukan tujuan kita sejak awal, karena menjadi juara, dan menjadi bugar, ada kalanya beda jalur. Kalau memang kita sudah memutuskan untuk menjadi seorang juara, sah sah aja, selama kita menyadari aspek kebugaran apa yang harus dinomorduakan dan bagaimana meminimalisir sebaik baiknya terjadinya mudharat di masa depan. Asal tahu saja, untuk berupaya mensejajarkan prioritas KEBUGARAN dan MENANG KOMPETISI, kita perlu alokasi waktu yang jauh lebih besar, energi lebih besar, dan dana yang lebih besar juga. Wallahu a’lam bish showab. #fitness Anak gadis mengalami cedera pergelangan kaki berulang. Terkadang memang ada kejadian terkilir. Terkadang bengkak saja. Tentu saja hal ini menyebabkan hambatan dalam performance nya dalam olahraga yang berbasis prestasi. Ketika dokter bertanya tentang pemanasan dan pendinginan, saya bilang pada dokternya “Ada kok latihan conditioningnya juga”. Namun dokter menebak bahwa biasanya latihan kurang proper, hanya alakadarnya. Saya tidak mengelak karena sering ‘ngebatin’ juga: ini kapan latihan endurance nya, kenapa pendinginan sering diskip, kenapa ga ada pembekalan nutrisi sebelum lomba, dll. Menurut dokter olahraga yang menangani anak gadis, jangankan aktivitas aktivitas olahraga rekreasi, yang atlet pelatnas aja terkadang tidak diperhatikan kok, dianggap sudah memikirkan secara mandiri. Jadi terkadang atlet atlet ini dituntut untuk mengharumkan institusi, dituntut latihan sebanyak banyaknya, meraup medali. Bagi atlet level klub (bukan mewakili pemerintah), bahkan butuh modal yang tidak sedikit untuk ikut kompetisi (Yang rada ajaib kami malah beberapa kali harus bayar pendaftaran untuk ikut seleksi mewakili daerah dan nasional - yang belum tentu lolos). Tetapi manajemen nutrisi, manajemen pemulihan, strength and conditioning, bhay! Pikiran saya jadi melayang pada teman teman atlet rekreasional yang menjalani kompetisi kompetisi yang cukup serius, yang juga sebaiknya punya pemahaman cukup dalam menjalani latihan agar terhindar dari mudharat di masa depan. Sebagai orangtua, saya sudah memutuskan bahwa kebugaran nomor satu, prestasi nomor dua. Nggak bisa dua duanya? Well, sebisa mungkin meraih keduanya, tapi dalam perencanaan harus mau membuat prioritas, karena terkadang kebugaran dan prestasi harus berjalan masing masing. Saya tahu ini pasti akan kontroversial di antara orang tua yang begitu berkorban mendukung dan memotivasi anak anaknya untuk latihan latihan dan latihan, di mana vibe dalam lingkungan orangtua adalah mencapai kemajuan dan kemenangan. Saya sebaliknya, selalu ‘teasing’ Rara untuk berbagi fokus, mengajak menjalani cabor lain. Sekarang sedang senang ‘nyambi’ berkuda. Sebenarnya dia tertarik aikido juga tapi waktunya udah susah bettt haha. Komponen kebugaran yang penting bagi fungsi tubuh hingga jangka panjang ada 4: cardio, kekuatan, kelenturan dan komposisi tubuh. Berhubung frekuensi latihan sepatu roda cukup tinggi (untuk ukuran orang awam), maka KONSEKUENSInya, agar aspek kebugaran tetap tercapai dan minim risiko cedera akibat overuse otot, olahraganya harus ditambah lagi: Mobility training, yin yoga, treadmill, renang, dan strength conditioning training yang terawasi secara personal, bukan secara massal seperti di klub (karena pelatih tidak selalu bisa fokus dengan targeted muscle-nya kena apa engga). Berhubung sering cedera, maka kami langganan ke fisioterapi, dan akhirnya sekarang ada tambahan program rehabilitasi lagi bersama dokter. Ribet banget ya? Modal tambah gede pasti? Waktu makin habis? Yes ribet bangeeet euy. Kalau melihat riwayat prestasi Rara dari 1 kompetisi ke kompetisi lain, sebenarnya sering ngga naik podium daripada naik podium. Poin prestasi secara historis, masih SANGAT JAUH dari sang juara (yang kalau ditanya ternyata latihan setiap hari). Tapi ternyata anak gadis sangat cinta dengan kesibukan di olahraga ini, masih sangat antusias ikut kejuaraan. Dia juga bahagia ketika ‘unlocking’ trik baru atau mencapai rekor personal baru. Jadi secara psikologis, olahraga ini bermanfaat buatnya. Lumayan juga buat jadi simulasi kegigihan menuju cita cita. Maka inilah yang saya merasa harus lakukan, sebisa mungkin melindungi keamanannya, melindungi kebugaran di masa depannya, walaupun sudah terlanjur muncul risiko masa depan akibat cedera yang sudah terjadi. #fitness #olahraga #hobi Pengen ngerangkum tentang Hipnosis, berdasarkan pemahaman ahlinya, karena di luar sana, kisah tentang hipnosis itu liar sekali.
Untuk referensi yang benar, saya mengambil sumber dari Bapak Adi W.Gunawan, karena beliau leading expert dalam hal ini di Indonesia. ------------------ Kata beliau, hipnosis sebenarnya adalah art of communication. Saya ingin mengkiaskan dengan belajar berbahasa. Kita bisa berkomunikasi dengan orang lain tanpa belajar bahasa dulu sama ahli bahasa, bukan?. Semuanya terjadi organik dari orang tua dan lingkungan. Kalau tutur bahasa orangtua baik, maka baik pula tutur kita. Begitu pula sebaliknya. Tapi tetep aja kita butuh belajar grammar, belajar teori komunikasi, untuk memperhalus bahasa dan memperkaya cara berkomunikasi dengan orang lain biar nyambung. Saya sudah buktikan dalam interaksi sehari hari, betapa banyak salah paham di sosmed karena tata bahasa yang ndak jelas, tidak bisa didengarkan intonasinya, dan juga lacking skill dalam berbahasa :D. Maka struktur berbahasa yang baik sangat krusial terutama apabila kita tidak mendengarkan intonasi. Bahasa pun menjadi tools untuk mempersuasi orang lain, dalam hal kebaikan maupun yang tidak terlalu baik. ------------------ Sebenernya, tanpa belajar hipnosis pun, setiap hari kita masuk dan keluar kondisi hipnosis kok, sama lah dengan kiasan belajar berkomunikasi/berbahasa. Tanpa belajar khusus tentang teori hipnosis, maka hipnosis yang kita alami, menurut Pak Adi, disebut AUTO HIPNOSIS, atau saya selama ini menyebutnya HIPNOSIS ORGANIK. Contoh terjadinya adalah ketika pecinta bola sedang nonton pertandingan bola,emak emak menonton sinetron atau drama korea sampai tidak bisa diganggu, anak anak main game sehingga tidak bisa mendengar yang lain, mengobrol dengan sahabat yang sehati sehingga waktu berjalan terlalu cepat (distorsi waktu), atau fokus dan khusyuk dengan dzikir dan bacaan shalat. Dalam kondisi hipnosis ini, kita mudah untuk menyerap dan menerima ‘program baru’. Positif atau negatif? Bisa dua duanya, karena terjadi apa adanya tanpa disengaja. Tapi dengan memahami CARA KERJAnya, kita bisa memanfaatkan dan memaksimalkan untuk kepentingan dan niat yang baik, serta lebih sadar dengan potensi buruknya sehingga bisa menghindarinya. Klik tautan https://www.adiwgunawan.com/articles/apakah-hipnosis-hipnoterapi-berbahaya Berbagai macam artikel untuk memahami tentang ilmu ini lebih dalam bisa dilihat di tautan https://www.adiwgunawan.com/articles ------------------ Lalu bagaimana dari tinjauan agama (Islam)? Membahas tinjauan agama, saya mau menyampaikan disclaimer dulu bahwa yang saya sampaikan berikut adalah insight saya. Saya tidak berkompeten juga untuk menentukan hukum fiqih, maka untuk mengetahui status hukum, silakan membahas dengan guru masing masing, TAPI mohon dengan membawa serta menceritakan pemahaman tentang hipnosis yang benar yah, bukan yang liar dan penuh asumsi itu. ------------------ Saya percaya ilmu hasil temuan pikir manusia adalah netral. Kita bisa menggunakannya untuk mendekat pada Allah atau menjauhi Allah. Saya pernah menyimak sejarah percetakan dalam dunia Islam yang disampaikan Dr. Yasir Qadhi (https://www.youtube.com/watch?v=Rg1c62x0NYk). Umat Islam sempat dalam masa kegelapan dan kalah jauh dibandingkan peradaban lain, karena menolak percetakan. Ulama saat itu mengkhawatirkan akan terjadi distorsi ilmu apabila ilmu tidak disampaikan melalui tatap muka.Namun akhirnya, percetakan mulai diterima dan sejak saat itu hasil pikir ilmuwan dan ulama Islam berkembang dan menyebar dengan pesat sehingga Islam mencapai puncak dalam hal peradaban. Dengan majunya peradaban Islam, apakah risiko penyebaran ilmu seperti yang dikhawatiran ulama tidak ada? Well, jelas masih ada. Apalagi kini penyebaran informasi tidak hanya melalui kertas namun melalui internet. Bukti bias informasi sangat terlihat nyata. Kekhawatiran ulama di masa lalu terbukti. Lalu apakah keputusan dunia Islam untuk menerima percetakan adalah hal yang salah? Tentu tidak bisa dikatakan begitu bukan? Karena kita tidak bisa mengabaikan pula mengenai manfaatnya yang sangat besar untuk umat. Begitu pula ilmu lain hasil olah pikir manusia: Kedokteran, ekonomi, seni, psikologi, termasuk hipnosis. Dia hanyalah satu di antara sekian ilmu yang membedah mekanisme alam semesta, bagaimana alam bekerja sesuai jangkauan akal manusia (yang kita semua harus pahami terbatas). Dengan mengetahui bagaimana alam semesta bekerja (yang tentu saja tidak akan bisa menjangkau pengetahuan mutlak Allah), mengenal mekanisme sebab akibat, maka manusia dapat menggunakan privilege nya sebagai makhluk yang dikenal oleh makhluk lain sebagai yang memiliki akal, yang bisa memakmurkan maupun menghancurkan. And I choose to learn a bit of hypnosis for greater good of humanity. ------------------ Tapi di hipnosis ada mengosongkan pikiran. Nanti kesambet. There is no such thing. Maka yuks belajar langsung dari sumber yang benar bukan dari asumsi. ------------------ Tapi kan kalo di hipnosis tuh sering ada afirmasi afirmasi yang membuat kekuatan manusia sebagai segala galanya. Manusia bisa menjadi apapun. Jadi rawan syirik Seluruh keilmuan manusia ada titik rawan membuat syirik. Kita percaya sembuh dari penyakit karena obat dari dokter semata, adalah syirik. Kita percaya bahwa anak kita tumbuh soleh dan solehah semata mata karena kita rajin belajar parenting, adalah syirik. Segala aktivitas kita yang dilakukan tanpa menghadirkan Allah dan tanpa menjadikan Allah sebagai penentu segalanya, adalah syirik. Maka, iya, sebagaimana ilmu yang lain, hipnosis rawan kesyirikan apabila kita tidak memahami berakidah yang benar. Mungkin bisa simak juga mengenai sebab https://muslimafiyah.com/penting-mengetahui-sebab-kauniy-dan-sebab-syari.html. Sebab qauniy adalah hasil dari hukum alam. Jika kita meneliti teori hipnosis, maka kita bisa mengetahui bahwa yang terjadi hanyalah hukum alam, yang semua terjadi atas izin Allah. Nothing fancy. Nothing magic. Yang fancy adalah proses pembelajaran manusia menemukan ilmu ini. MasyaaAllah. Tidak hanya hipnosis. Apabila kita muslim hendak mempelajari suatu ilmu dari orang yang bukan muslim, maka pasang filter yang baik. Jika kita menemui ada ajaran guru kita yang tidak sesuai, apakah kita buang semua ilmunya? Jika kita buang semuanya, maka sungguh tidak akan berkembang Islamic Medicine saat ini, yang menggabungkan thibbun nabawi dengan Traditional Chinese Medicine. Karena TCM memiliki root atau akar Taoisme, yaitu tradisi sebuah agama. Islamic Medicine bisa mulai berkembang karena kita membuka diri terhadap pengetahuan lain di luar yang sudah Rasulullah sampaikan. Kalau ada yang menyelisihi dan bisa dibuang, maka buang sebagian aja nggak sih? -------------- Tapi kok ada praktisi hipnosis yang prakteknya kayak nyari kesaktian? Balik ke asal. Hypnosis is a neutral subject. It’s a natural phenomenon of our mind. Mau dikawinkan dengan jenis ilmu apa saja bisa. Sayangnya, termasuk dengan klenik. Ada juga yang namanya sama sama hipnosis, tapi sesungguhnya esensinya berbeda dengan hipnosis dalam definisi ilmu yang dipelajari Pak Adi Gunawan. -------------- Berarti hipnosis, hipnoterapi, aman ya? Diulang lagi. Netral. Saya pribadi akan mencari praktisi yang saya yakini akidahnya, untuk topik yang berat. Atau kalaupun memang sangat perlu berhubungan dengan praktisi non muslim, harus banyak diskusi dan briefing dulu. Mencari praktisi untuk membantu kita memecahkan masalah bukan mengizinkan dia mengambil alih kontrol. Do our part. Berdayakan diri. -------------- Ngga perlu lah hipnohipnoan. Segala masalah insyaaAllah akan teratasi dengan banyak dzikir, banyak mendekatkan diri pada Allah, ikhlas, pasrah. Setuju bahwa ikhlas ridho pasrah adalah kunci segalanya. Bagi saya, segala ikhtiar keilmuan, sifatnya hanyalah pendekatan menuju kondisi mudah untuk merelasikan diri dengan kondisi mendekatkan diri pada Allah dengan sebenar benarnya. Ada orang orang yang kondisi jiwanya seperti benang kusut. Mau ikhlas dan pasrah saja tidak semudah orang lain, karena latar belakang pengasuhan yang berbeda dengan orang yang mudah ikhlas pasrah tersebut. Pendekatan bersifat kejiwaan seperti konseling, buat saya sifatnya coaching atau pendampingan, memberikan panduan untuk menyibak ‘hutan belantara’ untuk menemukan ikhlas pasrah tersebut, membantu menemukan momen “Ahaa! I know now how to get there”. Macem coaching bisnis aja. Jadi lebih terarah mencapai target dan menghindari hal hal kontraproduktif yang membuang energi. --- Hoke. Selanjutnya sebagai penutup, saya menemukan bacaan yang menarik dari praktisi Ruqyah Syar’iyyah, untuk melengkapi ruang lingkup hipnosis yang umum ini. https://konsultasiruqyah.wordpress.com/2015/10/15/afirmasi-qurany-dan-afirmasi-psikologi/ Wallahu a’lam bis showab |
AuthorStill me. Rika ArchivesCategories |





RSS Feed